Elena Teslova
MOSKOW
Rusia tak dapat mengabaikan posisi Turki dalam konflik Nagorno-Karabakh, kata Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia dan mantan Perdana Menteri Dmitry Medvedev pada Senin.
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan media Rusia tentang peran Turki dalam masalah Karabakh, Medvedev menyoroti hubungan erat Turki-Azerbaijan dan menekankan pentingnya kemitraan Rusia-Turki.
Dia juga menyebut kerja sama Rusia-Turki di Nagorno-Karabakh sebagai "faktor penstabil".
"Turki adalah tetangga kami dan mitra yang sangat penting. Dan negara yang sangat dekat untuk Azerbaijan. Faktor ini tidak dapat diabaikan,” ujar dia.
“Kami memiliki dialog yang produktif dengan mereka - presiden kami terus berkomunikasi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan,” imbuh Medvedev.
Dia menambahkan negaranya harus memperhitungkan realitas yang ada di kawasan. Dan kenyataannya terkait masalah ini perlu dibicarakan dengan mitra mereka dari Turki.
Medvedev menegaskan kembali komitmen Rusia untuk solusi diplomatik untuk konflik di Karabakh, tetapi dia juga mengatakan masalah status teritorial Karabakh sebaiknya ditunda untuk periode mendatang, karena dapat memicu eskalasi baru.
- Apa yang terjadi di Karabakh?
Hubungan antara bekas republik Soviet tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, yang diakui secara internasional sebagai wilayah Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.
Ketika bentrokan baru meletus pada 27 September 2020, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan dan bahkan melanggar perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Selama konflik enam minggu, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa, sementara setidaknya 2.802 tentaranya tewas.
Ada klaim berbeda tentang jumlah korban di pihak Armenia, yang menurut sumber dan pejabat Azerbaijan, bisa mencapai 5.000 orang.
Kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia pada 10 November 2020 untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.
Sebuah pusat gabungan Turki-Rusia mulai beroperasi pada Sabtu untuk memantau gencatan senjata, terdapat 60 tentara Rusia dan 60 tentara Turki bertugas di pos militer itu.
Pada 11 Januari, para pemimpin Rusia, Azerbaijan, dan Armenia menandatangani pakta untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur yang menguntungkan seluruh kawasan. Ini termasuk pembentukan kelompok kerja trilateral di Karabakh.
Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan bagi Azerbaijan dan kekalahan bagi Armenia.
Namun, pelanggaran dilaporkan dalam beberapa minggu terakhir, dengan beberapa tentara Armenia masih bersembunyi di daerah pegunungan.
news_share_descriptionsubscription_contact

