Muhammad Abdullah Azzam
22 Maret 2019•Update: 23 Maret 2019
Eşref Musa, Burak Karacaoğlu
IDLIB
Sejumlah serangan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad yang terus melanggar perjanjian Idlib selama lima bulan terakhir menyebabkan 39 ribu keluarga atau sekitar 200 ribu warga sipil terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.
Rezim Bashar al-Assad dan sekutunya di Suriah masih terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada perjanjian Sochi dengan menyerang wilayah pemukiman di selatan zona de-eskalasi Idlib.
Mereka terus melancarkan serangan artileri dan roket ke daerah pemukiman sipil di provinsi Idlib.
Serangan intensif pasukan rezim ke pemukiman sipil di selatan Idlib dan utara Hama menambahkan gelombang pengungsi tiap harinya ke kamp-kamp di dekat perbatasan Turki.
Direktur sebuah lembaga kemanusiaan yang beraktivitas di Idlib, Mohammad Hallaj, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sekitar 19.500 keluarga meninggalkan tempat tinggalnya dari Idlib dan Hama ke tempat-tempat yang aman selama 1,5 bulan terakhir.
Hallaj mengungkapkan bahwa gelombang pengungsian masih akan berlangsung.
Sekitar 39 ribu warga sipil keluarga terpaksa bermigrasi dari kampung halamannya sejak pelanggaran-pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang dilalukan Turki dan Rusia pada September 2018 lalu.
"Hampir tidak ada populasi sipil di pedesaan tenggara Idlib," ungkap Hallaj.
Hallaj melaporkan pasukan rezim membombardir permukiman sipil di bagian selatan Idlib dan wilayah dataran Gab di Hama pekan lalu.