Muhammad Abdullah Azzam
09 Mei 2019•Update: 10 Mei 2019
Eşref Musa, Burak Karacaoğlu
IDLIB
Serangan-serangan yang dilakukan rezim Bashar al-Assad, kelompok teroris dukungan Iran dan sekutunya Rusia ke zona de-eskalasi Idlib memaksa ratusan ribu warga sipil mengungsi.
Direktur Koordinasi Penanganan Suriah, Muhammad Hallaj, mengungkapkan kepada Anadolu Agency bahwa serangan rezim Assad dan para pendukungnya sejak 17 September 2018 menyebabkan 396.480 sipil mengungsi ke daerah dekat perbatasan Turki.
Rezim Assad dan para pendukungnya melancarkan 89 serangan udara dan darat ke wilayah permukiman sipil di Idlib, pedesaan Hama dan Aleppo. Selain itu, 49 serangan di antaranya mereka menggunakan senjata bom barel ke area permukiman sipil.
Hallaj mengatakan bahwa gelombang migrasi meningkat dengan perluasan serangan Assad ke daerah permukiman.
Mayoritas warga sipil yang meninggalkan rumah mereka menempati kamp-kamp di daerah Atma, Kah, Deir Hassan, dan Kaft Lusin tanah Suriah yang berbatasan dengan distrik Reyhanli, provinsi Hatay, Turki.
Menyusul pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi - di mana tindakan agresi dilarang secara tegas - di Idlib.
Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.
Sejalan dengan kesepakatan Sochi, kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tidak terduga.
Sejak itu, puluhan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi.