Rhany Chairunissa Rufinaldo
31 Juli 2019•Update: 01 Agustus 2019
Halil Silahsor, Mustafa Melih Ahishali
ISTANBUL
Gelombang serangan oleh gerilyawan Taliban dan serangan udara oleh misi pimpinan Amerika Serikat terus membayangi pemilihan presiden Afghanistan.
Lebih dari 9,68 juta pemilih diperkirakan akan memberikan suara mereka dalam pemilihan presiden 28 September, pemilu demokratis keempat sejak jatuhnya Taliban pada 2001.
Kampanye pemilihan berlangsung lebih dari 60 hari akan menyaksikan 18 kandidat bersaing dan bersaing untuk mendapatkan suara.
Persaingan menuju posisi nomor satu di negara itu diramaikan oleh 18 kandidat, di antaranya Presiden Ashraf Ghani, Wakil Presiden Abdullah Abdullah, mantan Penasihat Keamanan Nasional Haneef Atmar dan mantan pemimpin Mujahidin Gulbuddin Hekmatyar.
Sejumlah kandidat telah menyatakan kekhawatiran mereka soal keunggulan Ghani selama masa kampanye karena wewenangnya sebagai calon petahana.
Sementara itu, Ghani menepis ketakutan tersebut dan meyakinkan bahwa dia akan berkampanye di bawah undang-undang yang diatur dalam konstitusi negara dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum.
Pemilihan umum yang diperkirakan menelan biaya USD149 juta akan didanai bersama oleh pemerintah Kabul, organisasi internasional dan Amerika Serikat.
Dari total 7.400 kotak suara yang siap didistribusikan, 2012 di antaranya ditujukan untuk daerah-daerah yang menghadapi ancaman dari militan Taliban.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan otoritas pemilu sedang menyusun rencana keamanan yang rumit untuk memastikan pemilu bebas dari kekerasan, dengan mengerahkan 50.000 tentara untuk melindungi kotak suara.
Setengah dari 34 provinsi di negara itu, termasuk Ibu Kota Kabul, mengalami lonjakan serangan dari Taliban.