Muhammad Abdullah Azzam
26 November 2019•Update: 27 November 2019
Muhammet Nazım Taşçı
ANKARA
Setidaknya dua pemberontak organisasi Hizbul Mujahideen tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan para gerilyawan di wilayah Jammu Kashmir, India.
Menurut laporan media lokal India, terjadi bentrokan antara aparat keamanan yang mengepung sebuah desa di daerah Pulwama dan para pemberontak.
India pada tanggal 5 Agustus membatalkan pasal 370 konstitusi, yang memberikan hak istimewa pada Jammu Kashmir selama lebih dari setengah abad, mereka menghilangkan status khusus wilayah tersebut dan membagi provinsi itu menjadi dua bagian.
Pada tanggal 31 Oktober wilayah itu dibagi menjadi wilayah persatuan Jammu dan Kashmir, serta Ladakh.
Setelah keputusan itu, India mengintensifkan operasi keamanan dan meningkatkan tekanan kepada masyarakat lokal, serta menahan semua pemimpin dan anggota partai lokal.
Ketegangan antara Islamabad dan New Delhi memuncak setelah India mencabut status quo Jammu dan Kashmir, yang memungkinkan penduduknya memberlakukan hukum mereka sendiri dan mencegah orang luar menetap atau memiliki tanah di wilayah itu.
Para pemimpin dan warga Kashmir khawatir langkah ini merupakan upaya India untuk mengubah demografi negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang telah berjuang melawan kekuasaan India untuk kemerdekaan atau penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.
Kashmir, wilayah Himalaya dengan mayoritas penduduk Muslim, terbagi menjadi area yang diduduki India dan Pakistan, serta sebagian kecil diduduki China.
India dan Pakistan telah berperang 3 kali – pada 1948, 1965 dan 1971 – sejak berpisah pada 1947, dua pertempuran itu terkait Kashmir. Kelompok pemberontak di Jammu dan Kashmir terus berjuang untuk kemerdekaan dari kuasa India, atau untuk bergabung dengan Pakistan.
Lebih dari 70.000 orang telah tewas dalam konflik itu sejak 1989. India menempatkan lebih dari setengah juta tentara di area yang disengketakan itu.