Muhammad Latief
JAKARTA
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) pada mendukung temuan Polri yang memastikan bahwa ada peran warga negera Indonesia dalam dua ledakan di Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Sulu pada 27 Januari 2019.
Ledakan terjadi saat misa Minggu dini hari dan menewaskan 23 orang dan melukai 102 lainnya, menurut penyelidikan polisi.
"Laporan media yang mengutip otoritas Indonesia bahwa pelaku ledakan di Katedral Mount Carmel di Jolo, Sulu adalah pasangan Indonesia mengonfirmasi temuan kami dalam penyelidikan," ujar Brigadir Jenderal Edgard Arevalo, juru bicara AFP, di sebuah pernyataan seperti dimuat oleh Manila Bulletin, Jumat.
Pada Selasa, Polri mengumumkan bahwa pelaku utama serangan di Katedral Jolo adalah sepasang suami istri asal Indonesia.
Juru bicara Polri Dedi Prasetyo mengidentifikasi suami-istri itu sebagai Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh.
Laporan tersebut datang dari Yoga Febrianto, seorang pria yang diduga berafiliasi dengan Daesh setelah dia ditangkap di Malaysia bulan lalu.
Seorang tersangka lain yaitu Novendri yang ditangkap di Sumatra Barat, mengkonfirmasi pengakuan Febrianto.
Yoga diduga merekrut pasangan itu untuk menjadi bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sebuah kelompok ekstremis di Indonesia, untuk melakukan serangan bom.
Menurut Arevalo, AFP segera berkoordinasi aparat keamanan negara lain saat pemboman terjadi.
“AFP berbagi catatan dan memberikan informasi penting dengan Indonesia. Data-data yang didasarkan dari penyelidikan dan intelijen kami berkontribusi pada penyelidikan mereka,” kata dia.
Arevalo mengatakan hal itu membuktikan adanya hubungan antara kelompook-kelompok teror di Asia Tenggara.
“Perlu kerja sama dan berbagi informasi antara dan di antara negara-negara di kawasan ini khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina,” ujar dia.
Arevalo menambahkan bahwa kerja sama tidak hanya harus dilakukan dalam hal-hal yang berkaitan dengan militer tetapi juga dengan polisi "untuk meningkatkan postur keamanan kita."
Infiltrasi
Sementara itu, militer juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang memantau tujuh teroris asing di Mindanao Barat yang dilaporkan bekerja dengan kelompok-kelompok ekstremis dan ancaman setempat untuk melatih para pelaku bom bunuh diri di masa depan.
“Mereka mendidik anggotanya untuk menjadi pelaku bom bunuh diri dan melatih mereka dalam aksi-aksi terorisme lainnya," kata Letnan Jenderal Cirilito Sobejana, komandan AFP-Komando Mindanao Barat (WestMinCom).
Sobejana mengatakan tujuh teroris asing, yang belum jelas kewarganegaraannya, kemungkinan berafiliasi dengan Kelompok Abu Sayyaf (ASG) dan Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (BIFF) di Sulu, Maguindanao dan Basilan.
Selain tujuh orang itu, 42 orang asing lainnya juga dimasukkan dalam daftar pantauan mereka.
Pada 28 Juni 2019, dua pembom bunuh diri menyerang sebuah kamp militer di Indanan, Sulu yang menewaskan tujuh orang. Salah satu tersangka diidentifikasi sebagai pembom bunuh diri Filipina pertama yang diketahui, Norman Lasuca, 23 tahun.
news_share_descriptionsubscription_contact
