Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Oktober 2018•Update: 05 Oktober 2018
Satuk Bugra Kutlugun
ANKARA
Turki dan Belanda akan fokus pada langkah-langkah positif untuk meningkatkan hubungan bilateral, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan pada Rabu.
Pernyataan Cavusoglu disampaikan saat konferensi pers bersama dengan mitranya dari Belanda, Stef Blok.
Menyoroti penunjukan terbaru duta besar Turki untuk Belanda dan sebaliknya, Cavusoglu mengatakan dia dan Blok melakukan pertemuan yang produktif.
"Perusahaan-perusahaan Belanda adalah yang nomor satu di Turki jika dilihat dari segi investasi langsung. Kami juga meningkatkan investasi kami di Belanda," katanya.
Menyatakan bahwa Turki dan Belanda telah menjalin hubungan persahabatan selama lebih dari 400 tahun, Cavusoglu mengatakan bahwa kedua belah pihak telah belajar dari perselisihan yang terjadi pada 2017.
Hubungan antara kedua negara merenggang menjelang referendum presiden April 2017 di Turki, ketika pihak berwenang Belanda membatalkan izin penerbangan bagi sebuah pesawat yang membawa Cavusoglu.
Demonstrasi oleh warga Turki yang mendukung perubahan konstitusional untuk mengalihkan Turki ke sistem presidensial eksekutif juga menghadapi pembatasan yang luar biasa dari pemerintah pusat dan lokal.
"Kami akan berusaha untuk fokus pada langkah-langkah positif untuk meningkatkan hubungan kami," kata Cavusoglu, menambahkan bahwa dia akan melakukan kunjungan resmi ke Belanda dalam tiga bulan pertama 2019.
Blok menyoroti pentingnya Turki sebagai sekutu NATO dan memuji negara itu atas kesediaannya menampung lebih dari 3,5 juta pengungsi.
Dia juga memuji peran Turki dalam mencegah potensi krisis kemanusiaan di Idlib, Suriah.
Sejak rezim Assad mulai melakukan serangan udara di Idlib barat daya dan Hama utara, Turki telah meningkatkan upaya diplomatik dengan tujuan mencegah eskalasi lebih lanjut di wilayah tersebut.
Dikhawatirkan bahwa konflik bersenjata di Idlib akan menyebabkan korban warga sipil yang cukup besar, memicu gelombang emigrasi baru dan memungkinkan kelompok teroris menyusup ke kota.
Dalam kerangka proposal yang dibuat oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada pertemuan 7 September di Teheran, Erdogan dan mitra Rusia Vladimir Putin, kemudian di Sochi, sepakat tentang kebutuhan untuk mengambil langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan gencatan senjata.
Kesepakatan itu disambut baik oleh warga sipil di Idlib, lebih dari 50.000 di antaranya telah kembali ke rumah mereka.