Muhammad Abdullah Azzam
23 Juli 2020•Update: 24 Juli 2020
Şerife Çetin
BRUSSELS
Uni Eropa (UE) memperingatkan ‘bahayanya’ ancaman yang ditimbulkan dari intervensi militer oleh para aktor regional yang aktif dalam konflik di Libya.
Satu-satunya pilihan di Libya adalah solusi politik yang dinegosiasikan, ungkap kantor Josep Borrell, Perwakilan Tinggi untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Uni Eropa lewat sebuah pernyataan tertulis.
Dalam pernyataan itu, disebutkan semua pihak membuat komitmen penting dalam Proses Berlin yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ini harus direalisasikan ke dalam langkah-langkah nyata.
"Uni Eropa harus melanjutkan dialognya dengan semua pihak internasional dan regional. Para aktor regional di Libya harus mengakhiri seruan provokasi mereka. Ancaman intervensi militer berbahaya dan berpotensi meningkatkan konflik dan ketegangan antar para pihak di Libya," tekan pernyataan itu.
Pada Senin, Parlemen Mesir menyetujui proposal yang akan melancarkan intervensi militer ke negara tetangga, Libya.
Keputusan itu diambil seminggu setelah parlemen Tobruk memberi Mesir lampu hijau untuk melakukan intervensi militer di Libya dengan dalih melindungi keamanan nasional kedua negara.
Bulan lalu, al-Sisi mengancam intervensi militer di Sirte dan Jufra, menyebut mereka sebagai garis merah.
Libya pun mengecam keputusan Mesir itu dan menganggap persetujuan Parlemen Mesir untuk mengirim pasukannya ke luar perbatasan barat adalah deklarasi perang terhadap Libya, sebuah pelanggaran terhadap Liga Arab dan perjanjian-perjanjian PBB.
Sejak April 2019, pasukan Haftar telah melancarkan serangan terhadap ibu kota Libya, Tripoli, dan bagian lain Libya barat laut, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun, pemerintah Libya baru-baru ini meraih kemenangan signifikan, mendorong pasukan Haftar keluar dari Tripoli dan Kota Tarhuna yang strategis.