Muhammad Abdullah Azzam
12 Maret 2020•Update: 12 Maret 2020
Peter Kenny
JENEWA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu mengumumkan virus korona sebagai "pandemi global".
Pada konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa, kepala badan kesehatan PBB Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, penetapan status pandemi karena jumlah kasus Covid-19 meningkat 13 kali lipat selama sepekan terakhir, dan tiga kali lipat di sejumlah negara.
Sekarang, kata dia, ada lebih dari 118.000 kasus di 114 negara, dengan lebih dari 900 orang dirawat di Italia saja.
"Ini adalah pandemi pertama yang disebabkan oleh virus korona," tutur Tedros.
Dia mengatakan dunia tidak pernah melihat sebuah pandemi yang dapat dikendalikan pada saat bersamaan.
Tedros menambahkan beberapa negara tidak mengambil tindakan yang cukup untuk membendung penyakit ini.
Dia khawatir dengan lambannya penanganan virus yang dilakukan oleh negara-negara terdampak, tanpa menyebut identitas negara yang dia maksud.
"Karena itu kami telah membuat penilaian Covid-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi," kata Tedros.
Pandemi adalah penyakit yang menyebar di banyak negara di seluruh dunia secara bersamaan. Dengan status ini setiap negara diminta untuk agresif dalam menangani penyebaran virus asal kota Wuhan, China, tersebut.
"Namun beberapa negara telah menunjukkan virus ini dapat ditekan dan dikendalikan," katanya.
Menurutnya, penetapan status pandemi merupakan alarm bagi negara-negara lain di dunia untuk siaga penuh dengan virus korona. Pemerintah di setiap negara harus bisa melindungi kesehatan warganya, dan mencegah penyebaran virus tersebut.
"Kami melakukan ini bersama dengan tenang dan melindungi warga dunia, itu bisa dilakukan," katanya.
Tercatat di luar China, Italia cukup parah dilanda virus korona. Italia bahkan telah menutup pintu masuk negara itu setalah terjadi 9.172 kasus dan 463 orang meninggal dunia.
Di Indonesia jumlah orang terjangkit virus korona terus bertambah dalam dua pekan terakhir. Tercatat kini ada 34 pasien: dua orang dinyatakan sembuh dan menjalani isolasi di rumah, satu pasien meninggal dunia, yakni perempuan berusia 53 tahun, warga negara Inggris.
* Umar Idris berkontribusi dalam berita ini dari Jakarta