İqbal Musyaffa
27 Februari 2018•Update: 28 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menganggap volatilitas nilai tukar rupiah masih berada dalam kondisi wajar dengan level 7-8 persen.
“Volatilitas banyak disebabkan oleh faktor eksternal, khususnya dari Amerika Serikat,” ungkap Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, saat ini Amerika Serikat (AS) sedang menerapkan kebijakan pajak yang baru dan memungkinkan harus tersedianya pendanaan untuk pembiayaan fiscal.
“Jadi akan dikeluarkan lebih banyak surat utang di AS dan itu membawa yield dari US treasury meningkat di kisaran 3 persen,” jelas Agus.
Kondisi tersebut menurut dia akan membuat banyak dolar akan kembali ke AS karena daya tarik yield surat utang tersebut.
Dengan begitu, Agus memperkirakan akan ada perbaikan ekonomi AS yang membuat terjadinya peningkatan inflasi di sana.
Selain itu, Agus juga mengatakan akan ada kenaikan suku bunga The Fed sekitar tiga kali selama 2018 dan akan menjadi tekanan bagi ekonomi dunia atau terhadap stabilitas sistem keuangan dunia.
BI memprediksi volatilitas nilai tukar akan terjadi menjelang Maret, Juni, dan Desember mendatang pada saat penaikan suku bunga AS oleh The Fed.
“Bagi Indonesia, itu kondisi yang dapat dipahami dan hal yang wajar, kami melihat akan tetap ada dinamika seperti ini sampai Maret,” jelas Agus.
Gubernur bank sentral terbaik se-Asia Pasifik tersebut juga mengatakan setelah terjadi kenaikan suku bunga AS pada Maret mendatang, maka kondisi ekonomi global akan lebih stabil.
“Tapi sekarang sampai pekan ketiga Maret akan ada volatilitas,” jelas Agus.
Bank Indonesia, tegas Agus, akan selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Meski begitu, BI juga tetap akan memberikan keleluasaan nilai tukar rupiah untuk bisa mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Kalau pelemahan terjadi karena persepsi atau tekanan yang tidak sesuai dengan fundamental, BI akan hadir untuk menstabilkan,” ungkap dia.
Agus juga menyampaikan bahwa ketersediaan dolar di pasar akan selalu ada selama nilai tukar mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya, karena pasar akan selalu menciptakan kondisi supply and demand yang baik.