İqbal Musyaffa
15 Maret 2019•Update: 18 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Berdasarkan pengumuman dari Badan Pusat Statistik (BPS), impor Indonesia pada Februari 2019 tertekan cukup dalam hingga 18,61 persen dengan nilai USD12,2 miliar dari bulan Januari.
Pada bulan lalu, impor Indonesia mencapai USD14,9 miliar. Impor pada bulan ini juga cukup melambat bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu dengan jumlah USD14,19 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan impor ini selain karena pola musiman akibat jumlah hari pada Februari lebih sedikit dari Januari, juga karena adanya komitmen pemerintah untuk mengendalikan impor dan mendorong industri dalam negeri untuk substitusi impor.
“Seluruh impor berdasarkan penggunaan barang pada Februari juga turun,” ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Suhariyanto menjelaskan impor barang konsumsi turun 17,43 persen bila dibandingkan Januari menjadi USD1,01 miliar.
Beberapa komponen impor barang konsumsi yang turun antara lain buah pir, mesin, AC, artikel barang terbuat dari plastik, dan obat-obatan.
“Impor bahan baku dan penolong juga turun tajam seperti pada penurunan impor baja,” jelas dia.
Suhariyanto menguraikan impor bahan baku dan penolong turun 21,11 persen dari bulan Januari menjadi USD9,01 miliar. Kemudian penurunan impor juga terjadi pada barang modal sebesar 7,09 persen menjadi USD2,19 miliar.
Menurut dia, penurunan impor barang modal terjadi pada impor kendaraan bermotor, transmisi untuk komunikasi, dan juga beberapa mesin percetakan.
“Struktur impor tidak berubah dengan 73,81 persen di antaranya adalah impor bahan baku dan penolong,” ungkap Suhariyanto.
Suhariyanto menambahkan berdasarkan golongan barang terjadi peningkatan impor pada gula dan kembang gula sebesar USD100,9 juta, kapal laut dan bangunan terapung sebesar USD35,3 juta, susu, mentega, dan telur sebesar USD27,1 juta, binatang hidup sebesar USD26,7 juta, dan bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD26,4 juta.
Sementara penurunan impor terjadi pada mesin dan peralatan listrik sebesar USD477,3 juta, besi dan baja sebesar USD474,5 juta, mesin-mesin dan pesawat mekanik sebesar USD209,1 juta, plastik dan barang dari plastik sebesar USD194,8 juta, dan bahan kimia organik dengan penurunan sebesar USD152,7 juta.