İqbal Musyaffa
15 Maret 2018•Update: 16 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah meyakinkan masyarakat untuk tidak perlu cemas dengan kondisi utang luar negeri Indonesia yang kini sudah mencapai USD357,5 miliar atau sekitar Rp4897 triliun dengan kurs Rp13.700.
Dari jumlah tersebut, USD183,4 miliar di antaranya adalah utang pemerintah dan bank sentral.
Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan Scenaider Siahaan mengatakan utang yang dimiliki Indonesia sebagian besar merupakan investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang positif.
“Bagian terbesar dimanfaatkan untuk belanja jasa-jasa yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, serta infrastruktur,” jelas Scenaider di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan, utang luar negeri dikelola pemerintah dengan hati-hati sehingga masyarakat tidak perlu mencemaskannya. Biaya utang luar negeri pemerintah saat ini menurut dia sudah semakin rendah.
“Semakin rendahnya biaya utang luar negeri Indonesia karena kepercayaan investor terhadap kita meningkat, peringkat kredit kita juga membaik, begitupun dengan fundamental ekonomi kita,” jelas Scenaider.
Selain itu, pembayaran biaya dan cicilan utang luar negeri pemerintah menurut dia juga sudah dianggarkan dalam APBN dan mendapat persetujuan dari DPR.
“Ini menjadi privilege bagi pemerintah untuk membayarnya di kemudian hari. Selama ini pemerintah tidak pernah default (gagal membayar),” ungkap dia.
Dalam pengelolaan utangnya, pemerintah melakukannya secara terukur dan hati-hati dengan mengutamakan efisiensi biaya. “Ini selaras dengan pengembangan pasar keuangan,” imbuh Scenaider.
Rasio utang luar negeri pemerintah Indonesia terhadap GDP menurut dia masih berada di batas aman sebesar 29,1 persen. Rasio utang ini masih jauh di bawah batas yang ditetapkan dalam undang-undang keuangan negara nomor 17 tahun 2003 yang ditetapkan sebesar 60 persen.
“Kita masih lebih baik dari rasio utang pemerintah Vietnam sebesar 63,4 persen, Thailand 41,8 persen, Malaysia 52,7 persen, dan Brazil 81,2 persen,” urai dia.
Dengan target penerimaan negara pada tahun ini yang sekitar Rp1878,4 triliun, maka utang luar negeri yang dimiliki Indonesia masih aman.
“Memang nominal utang kita besar, tapi bila dibandingkan dengan kemampuan membayar, maka utang kita masih aman,” tegas dia.