JAKARTA
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta para pelaku usaha migas atau kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) agar efisien dalam berproduksi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global yang membuat harga minyak dunia kian tertekan.
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan harga minyak dan gas dunia tidak ditentukan oleh satu negara atau satu pihak karena harganya terbentuk oleh mekanisme suplai dan permintaan (demand) yang dipengaruhi oleh gejolak politik dan ekonomi global sehingga pasar harus menyesuaikan harganya.
“Yang bisa kita lakukan dan yang penting adalah melakukan efisiensi daripada biaya-biaya produksi atau eksplorasi dengan cara menggunakan teknologi yang lebih up to date,” jelas Menteri Jonan dalam acara pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, para KKKS harus mencari cara melakukan efisiensi. Pelaku usaha migas yang beroperasi di Indonesia adalah para pemain besar seperti Exxon, Conoco, Pertamina, Chevron, Eni, dan lainnya sehingga sangat memungkinkan untuk bisa menggunakan teknologi terbaru dengan biaya produksi lebih rendah.
“Kalau kita lihat harga minyak 8-10 tahun lalu USD120 per barel untuk brent. Sekarang USD58 dan kita tidak bisa prediksi. Yang masih bisa kita lakukan adalah efisiensi bisnis dan biaya,” tegas dia.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan KKKS harus bisa bersinergi agar efisien.
Menurut dia, SKK Migas membangun sistem clustering dengan 6 hingga 7 cluster sehingga dapat mempermudah kerja sama khususnya dalam penyediaan infrastruktur.
“Open Access Mechanism harus diimplementasikan,” jelas Dwi.
Dwi menambahkan dalam pengadaan barang dan alat-alat untuk produksi dapat dilakukan KKKS secara bersama-sama agar lebih murah bila dibandingkan dengan melakukan pengadaan secara sendiri-sendiri.
“Kita harus konsolidasi kebutuhan kontraktor,” imbuh dia.
Selain itu, SKK Migas menurut dia telah menciptakan sistem kontrak kerja jangka panjang untuk efisiensi. Kemudian, SKK Migas juga mengupayakan penggunaan teknologi terbaik dalam produksi migas di Indonesia.
Dwi memahami tantangan dalam industri migas sangat besar terlebih lagi produksi migas di Indonesia sedang dalam periode penurunan sekitar 20 persen bila tidak melakukan apa-apa.
“Salah satu yang kita lakukan adalah optimalisasi sebagai salah satu langkah dengan komitmen pada work plan dan budget yang terkontrol dan harus dilaksanakan,” lanjut Dwi.
Tantangan lainnya menurut dia adalah dalam hal menarik investasi di sektor migas khususnya untuk kegiatan eksplorasi.
Saat ini terdapat 128 cekungan migas namun baru 54 yang sudah dieksplorasi dengan 18 diantaranya sudah aktif berproduksi sehingga potensi di sektor ini masih cukup terbuka.
“Potensi kita sekarang berada di laut dalam yang jauh dari infrastruktur sehingga harus kuat investasinya,” kata Dwi.
Dwi melanjutkan dengan efisiensi maka bisa menciptakan profitabilitas di sektor migas sehingga bisa menarik minat investasi dan SKK terus berkolaborasi dengan pemerintah yang memiliki kemauan untuk mendengarkan masukan.
“Kami harap bisa membuka mata investor dunia, namun memang tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujar Dwi.
Namun, secara perlahan komitmen investasi KKKS untuk eksplorasi menurut dia mulai terbentuk dengan adanya dana komitmen kerja pasti sebesar USD2,4-2,5 miliar.
‘Kita harapkan regulasi tidak sering berubah-ubah, ada debirokrasi,” ungkap dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
