İqbal Musyaffa
18 April 2018•Update: 19 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menyebutkan pertumbuhan kredit baru triwulan I 2018 melambat.
Berdasarkan hasil laporan Hasil Survei Perbankan, melambatnya pertumbuhan kredit tersebut sesuai dengan pola penyaluran kredit awal tahun.
“Pelambatan pertumbuhan kredit tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) baru 75,9 persen, lebih rendah dari pertumbuhan kredit triwulan sebelumnya 94,3 persen, sejalan dengan masih rendahnya kebutuhan pembiayaan nasabah awal tahun,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman, Rabu, dalam siaran pers.
Meski demikian, Agusman menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit baru triwulan I 2018 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan SBT pertumbuhan kredit periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 52,9 persen.
BI memperkirakan pertumbuhan triwulanan kredit baru akan menguat pada triwulan II 2018, sebagaimana terindikasi dari SBT sebesar 93,1 persen.
Menguatnya pertumbuhan kredit, menurut Agusman, didukung oleh kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar, terutama pada aspek suku bunga kredit yang lebih rendah dan biaya persetujuan kredit yang lebih murah.
Penurunan suku bunga kredit diperkirakan terjadi pada kredit modal kerja sebesar 3 bps menjadi 11,78 persen dan suku bunga kredit konsumsi turun 8 bps menjadi 14,5 persen.
Hasil Survei Perbankan juga mengindikasikan tetap kuatnya optimisme terhadap peningkatan pertumbuhan kredit tahun 2018.
Optimisme tersebut didukung oleh perkiraan kondisi ekonomi tahun 2018 yang lebih baik dari tahun sebelumnya, penurunan suku bunga kredit, dan penurunan risiko penyaluran kredit.
Untuk keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 11,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2017 sebesar 8,2 persen (yoy).
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo seusai pelantikan di Jakarta, Rabu, mengatakan sudah ada beberapa permintaan kredit namun jumlahnya masih terhitung kecil.
“Tapi yang perlu dilihat adalah pembiayaan perusahaan dari nonkredit yaitu melalui pasar keuangan, penerbitan surat utang, dan initial public offering (IPO) untuk sahamnya. Selain itu juga ada pembiayaan yang dilakukan pelaku usaha melalui utang luar negeri,” urai dia.