İqbal Musyaffa
23 Maret 2018•Update: 23 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mengatakan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap stabil di tengah intermediasi perbankan yang belum kuat.
Terjaganya stabilitas sistem keuangan menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman seusai rapat dewan gubernur BI di Jakarta, Kamis, tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang cukup tinggi mencapai 23,2 persen dan rasio likuiditas (AL/DPK) sebesar 23,2 persen pada Januari.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NonPerforming Loan/NPL) ungkap Agusman, sedikit meningkat menjadi 2,9 persen (gross) atau 1,3 persen (net) pada Januari.
“Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial melalui jalur suku bunga terus berlangsung,” ujar Agusman.
Sejak awal periode pelonggaran kebijakan moneter hingga Januari 2018, Agusman menambahkan, suku bunga deposito dan kredit menurut dia terus menurun masing-masing sebesar 196 basis poin dan 151 basis poin.
Meski demikian, dia menekankan bahwa transmisi melalui jalur kredit masih belum optimal sejalan dengan permintaan kredit yang belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru.
“Pertumbuhan kredit Januari 2018 tercatat sebesar 7,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2 persen (yoy),” tambah dia.
Selain faktor permintaan kredit yang belum kuat, rendahnya pertumbuhan tersebut menurut Agusman juga sesuai dengan pola intermediasi tahunan yang cenderung turun di awal tahun.
Di tengah pertumbuhan kredit yang masih terbatas, dia menambahkan, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan sebesar 99,8 persen (yoy) pada Januari, sejalan dengan program pendalaman pasar keuangan.
“Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Januari tercatat 8,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 9,4 persen (yoy),” ungkap dia.
Dengan perbaikan ekonomi dan kemajuan program konsolidasi korporasi dan perbankan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit dan DPK akan lebih baik pada 2018, masing-masing dalam kisaran 10-12 persen (yoy) dan 9-11 persen (yoy).