Erric Permana
24 April 2018•Update: 24 April 2018
Erric Permana
JAKARTA
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta semua pihak untuk tidak khawatir secara berlebihan menyusul nilai rupiah yang semakin melemah hingga mencapai Rp14 ribu terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurut Jusuf Kalla, pelemahan rupiah dan mata uang lainnya di Asia tersebut disebabkan oleh faktor eksternal. Dia pun menilai menguatnya dolar itu lantaran ekonomi AS terus berkembang.
“Ada suatu optimisme sehingga dana-dana investasi itu kembali ke Amerika sehingga menyebabkan mata uang di Asia ini melemah,” ujar Kalla di kantornya pada Selasa.
Menurut dia, pelemahan rupiah tersebut menimbulkan dampak negatif dan positif kepada perekonomian Indonesia. Justru, momen tersebut bisa sangat menguntungkan bagi ekspor produk Indonesia dan juga sektor pariwisata.
“Negatif untuk barang impor, positif untuk ekspor. Jadi juga itu positif untuk turis masuk. Negatif untuk siapa yang ingin belanja keluar negeri. Jadi efeknya seperti itu. Jadi seimbang saja,” tambah dia.
Kalla mengaku akan memperbaiki ekspor di Indonesia untuk memperkuat cadangan devisa. Salah satu yang dilakukan di antaranya mengundang negara Afrika agar Indonesia memperluas jaringan perdagangannya.
“Kita ingin mempertahankan posisi kita di Eropa dengan merundingkan perdagangan dengan Eropa. Begitu juga dengan Australia. Kita mempercepat semua perundingan perdagangan free trade dengan Australia,” jelas Kalla.
Sebelumnya, sejak Senin lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyaris menembus angka Rp14 ribu.
Kepada Anadolu Agency, Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan nilai tukar rupiah untuk satu bulan ke depan berada pada level Rp13.950.
“Penyebab tertekannya rupiah karena permintaan terhadap USD meningkat setelah pada minggu lalu Gubernur The Fed Negara Bagian Cleveland Loretta Mester menyebutkan perlu adanya kenaikan suku bunga yang stabil,” ungkap Evan.
Kenaikan suku bunga yang stabil sebagaimana pernyataan Mester, menurut Evan, diminta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.