Megiza Asmail
MAJALAYA, Jawa Barat
Sudah satu bulan belakangan Ganjar (13) mengeluh kepada ibunya tak kuat lagi menahan rasa gatal yang menyerang tubuhnya. Luka basah dan mengering terlihat jelas di bagian kaki, tangan dan sela-sela jarinya. Kulitnya terkelupas, beruntusan, dan menghitam.
Tiaswati (48) bercerita kepada Anadolu Agency tentang rasa gatal luar biasa yang dirasakan anaknya nyaris setiap malam itu.
“Malam suka kambuh. Kalau siang itu biasanya jam 2-an pas lagi panas [terik matahari] pasti mulai gatal. Pokoknya kalau panas dan dia keringatan pasti gatal. Malam juga begitu. Kalau kegerahan ya dia rasanya gatal,” kata Tiaswati ditemui di rumahnya pada akhir pekan lalu.
Tidak jauh di belakang rumah Ganjar memang terdapat sebuah kolam yang dibuat warga Desa Sukamaju sebagai penampung air tanah. Kolam yang berada di samping mushola itu dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian warga.
Warna air kolam itu cokelat pekat. Dinding kolam tampak berlumut. Pada pagi hari, kolam menjadi tempat ibu-ibu mencuci baju, sekaligus tempat mandi anak-anak yang akan berangkat sekolah.
Di samping kolam penampung terdapat torent atau tanki penampung air yang sudah tersambung dengan tabung filterasi. Namun, air tersebut hanya bisa digunakan untuk wudhu warga yang ingin beribadah di mushola.
Melihat anaknya merintih tiap malam karena tak kuat menahan rasa gatal, Tiaswati mengaku sudah bolak-balik ke Puskesmas. Dokter yang memeriksa dengan jelas mengatakan bahwa bintik-bintik kasar dan luka mengelupas di badan anaknya itu dampak dari air yang mereka gunakan sehari-hari.
“Sudah ke Puskesmas, katanya dampak dari air. Dikasih salep sih buat diolesin. Cuma itu buat ngurangin gatal, enggak nyembuhin,” ujar Tiaswati.
Bukan hanya anaknya, Tiaswati sebenarnya juga merasakan gatal-gatal pada tubuhnya. Hanya saja, dia sudah kebal dan bisa mengabaikannya.
Tak jauh dari rumah Ganjar, seorang bocah perempuan bernama Fitri (4,5) juga mengalami penyakit kulit. Sama seperti Ganjar, pada betis kakinya terlihat beberapa tanda hitam bekas luka.
Ibunya, Nyai (50), menceritakan bercak hitam itu muncul setelah luka basah akibat garukan tangan anaknya mengering.
“Kalau lagi kumat dia nangis, kan perih. Waktu belum ada bekas [hitam]nya, kan [luka itu] pada besar-besar, kemudian mengelupas. Nah dia selalu susah tidur kalau malam,” tutur Nyai.
Penderitaan Fitri karena senang bermain di kolam penampungan air tak sampai di situ. Pada kulit kepalanya, terlihat beberapa titik-titik luka. Tiap keramas saat mandi, tiap itu juga dia menahan nyeri.
“Kalau dikeramas bilang ‘mamah perih, pelan-pelan dong’. Apalagi kalau bangun tidur ada japah (nanah)-nya. Kan dia garuk-garuk kepala pakai kuku, jadi menyebar ke [bagian badannya] yang lain yang dia garuk,” cerita Nyai.
Berjarak sekitar 5 kilometer dari permukiman rumah Ganjar dan Fitri, Ai (41) yang tinggal tepat di pinggir Sungai Cikijing, Solokan Jeruk, Rancaekek, menceritakan perkara air tanah rumahnya yang beberapa tahun belakangan kian berwarna keruh.
Ai paham benar bahwa air yang disedot pompa sanyo miliknya tak lagi murni air tanah akibat sudah tercampur limbah pabrik.
“Iya itu kan air dari limbah pabrik. Sekarang makin butek. Tapi kan disaring. Yah memang enggak bakal bening sekali,” kata dia.
Penyaring yang disebut oleh Ai memang bukan menggunakan alat filter modern ataupun mesin penapis khusus air limbah. Sebuah kaus kaki tebal yang juga sudah berwarna butek, menjadi alat saring air yang diandalkannya.
Air saringan kaus kaki itu, kata Ai, sehari-harinya digunakan untuk mandi dan mencuci, termasuk menyuci sayuran yang akan dimasak. Sedangkan untuk konsumsi, keluarganya harus membeli dari penjual air seharga Rp 4000 per galonnya.
“Ya kalau buat nyuci beras pakai air kamar mandi itu. Tapi masaknya mah pakai air galon. Sehari biasanya beli dua air galon,” kata Ai.
Hasil panen yang kosong
Di tempat terpisah, Yaya (68), petani yang sehari-harinya menggarap sawah di jajaran belakang pabrik milik PT Nirwana juga mengeluhkan imbas dari air limbah pabrik di area Desa Sukamaju.
Usianya yang sudah lewat setengah abad bisa jadi membuat kulit Yaya sudah kosen dengan paparan kandungan kimia. Namun dampak limbah terasa pada hasil sawah garapannya.
“Saya sudah enggak terasai kalau di kulit. Mungkin karena sudah dari SD diajarin ke sawah. Tapi kalau air limbahnya lagi panas [dan masuk ke sawah ketika] masih ada uapnya, padinya jadi kering. Nanti pas panen enggak ada isinya,” kata Yaya.
Dia menjabarkan, kualitas padi dari sawah yang digarapnya itu kian menurun setiap tahunnya. Yaya sendiri sudah empat tahun belakangan ini memegang 150 tumbak (1 tumbak = 14 meter persegi sawah).
Jika biasanya satu tumbak dia bisa menghasilkan 9 kilogram gabah basah, maka jumlah tersebut tak lagi bisa diharapkannya. “Kalau keadaan begini, paling bagusnya cuma dapat 7 kilogram,” ujar Yaya.
Bapak dari delapan anak ini berujar harga gabah basah yang dijualnya dihargai 450 ribu per kwintal atau Rp 45ribu per kilogramnya oleh bandar. Tetapi, lagi-lagi, tidak semua tumbak garapannya dapat menghasilkan uang karena padinya kosong.
“Hasil padi dibagi dua sama pabrik (pemilik sawah), mau dijual atau tidak ya terserah masing-masing. Jadi saya ngerjain sawah enggak dibayar sama pabrik, cuma dikasih ngolah. Saya jual sendiri gabah punya saya,” kata dia.
Pada musim panen terakhir, Yaya mengaku membawa pulang 2 ton gabah basah. “Itupun sekarang sudah turun sekali jumlahnya,” sebutnya.
Kejayaan yang pudar
Kejayaan masyarakat Majalaya yang tinggal di Kota Dolar, julukan Majalaya ketika menjadi pusat industri tekstil Indonesia, memang terbilang hanya sekejap mata. Masa keemasan hanya dirasakan pada periode tahun 1960-an.
Pengrajin tekstil yang menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin) pada empat dekade lalu sempat tersohor karena bisa menyuplai 40 persen kebutuhan tekstil di seluruh Indonesia.
Namun, ketika Presiden Soeharto mengizinkan wilayah Majalaya sebagai kawasan industri pada tahun 1970-an, di saat itulah kehancuran Sungai Citarum yang melintas sepanjang 30 kilometer kota di sebelah tenggara Bandung ini dimulai.
“Ketika era Presiden Soeharto tahun 70-an sampai 80-an zona industri Majalaya itu dimulai. Ekspansi besar-besaran pengusaha asing dimulai sehingga pengusaha asli gulung tikar. Pencemaran pertama dirasakan masyarakat di sini pada tahun 80-an,” ujar Deni Riswandini, Koordinator LSM Elingan yang sejak tahun 2000 menggelar edukasi penyadaran lingkungan di kawasan Majalaya, saat ditemui Anadolu Agency.
Warga lokal yang tadinya mendulang uang dari mengrajin kain, kini banting stir menjadi petani. Karena pabrik-pabrik tekstil membawa pekerja dari luar daerah, warga asli pun akhirnya mencari uang dari sawah.
Tak hanya menggerus keberadaan dan perekonomian pengrajin lokal, bersamaan dengan berkembangnya pabrik-pabrik, masalah kesehatan warga di Majalaya pun kian menjangkit.
Pada lima tahun lalu LSM lingkungan global Greenpeace mengeluarkan data hasil analisis kontaminasi logam berat dalam sedimen Sungai Citarum. Berdasarkan hasil studi mereka diketahui bahwa konsentrasi logam berat seperti Cd (Cadmium), Cr (Cromium) dan Pb (Timbal) di daerah hilir Citarum terdeteksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah hulu.
Jumlah konsentrasi logam berat yang mengejutkan ditemukan di beberapa anak sungai yang bermuara di Sungai Citarum, di antaranya Sungai Citarik, Sungai Cikijing, Sungai Cicalengka, Sungai Cimande, dan Sungai Cisunggalah.
Kelima sungai tersebut diketahui berada di daerah Rancaekek-Cicalengka, di mana 42 pabrik tekstil beroperasi.
“Pabrik-pabrik tekstil tersebut sebenarnya telah memiliki fasilitas pengolahan air limbah masing-masing, tetapi apakah mereka menggunakannya sesuai dengan peraturan, sepertinya tidak,” ujar Ahmad Ashov, juru bicara Greenpeace Indonesia kepada Anadolu Agency.
Dalam studi yang dipublikasikan Greenpeace dinyatakan bahwa tak hanya di hilir, namun konsentrasi logam berat juga ada di badan air sungai. Unsur logam berat yang terdeteksi antara lain Cu (Copper), Zn (Zink), Pb (Timbal, Cd (Cadmium), Co (Cobalt), Ni (Nikel), dan Cr (Cromium).
“Pencemaran limbah industri ini dapat menurunkan hasil panen padi, hingga masalah kesehatan kronis,” kata Ashov.
news_share_descriptionsubscription_contact

