17 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Erric Permana
JAKARTA
Kementerian Dalam Negeri Turki mencatat warga Indonesia merupakan warga negara kedua terbanyak yang ditangkap di sana karena diduga berkaitan dengan Kelompok Teroris Daesh atau ISIS.
Sementara Rusia menempati posisi pertama dengan warga negaranya yang paling banyak ditangkap. Untuk WNI sendiri ada sekitar 430an orang, sementara warga negara Rusia mencapai 800an orang lebih.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BNPT Suhardi Alius memastikan 400an WNI itu merupakan anak-anak dan perempuan.
“Kan kami baru kembali dari Turki kemarin mendampingi presiden. Jadi 400 lebih [WNI itu adalah] perempuan dan anak-anak bukan fighter,” ujar Suhardi Alius di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Dia juga menegaskan dari banyaknya jumlah tersebut tidak semuanya bergabung dengan Kelompok Teroris Daesh untuk berperang. Dan jumlah itu tidak sebanding dengan banyaknya warga negara Rusia.
“Peringkat terbanyak setelah Rusia, tapi ingat dari Rusia itu fighter semuanya. Kalau dari Indonesia itu ada anak-anak ada perempuan dan presentase kita itu dari populasi kita 200 juta lebih dan yang berangkat itu 400 orang,” tambahnya.
Kata Suhardi, mereka yang telah bergabung dengan kelompok teroris telah dipulangkan ke Indonesia dan mengikuti program deradikalisasi dari pemerintah.