Rıskı Ramadhan
21 Maret 2018•Update: 21 Maret 2018
Ridvan Korkulutas
GAZIANTEP
Oposisi di wilayah Afrin di Suriah akan membentuk sebuah majelis daerah dengan 30 perwakilan masyarakat Kurdi, Alevi, Arab dan Ezidi, menurut seorang perwakilan oposisi pada Selasa.
Hasan Sindi dari oposisi di Afrin mengkoordinasikan kongres pembebasan Afrin di provinsi Gaziantep, Turki.
Sesi pertama kongres telah diselenggarakan pada Senin.
Sekitar 100 orang Kurdi, Arab, Alevi dan Ezidi Afrin yang melarikan diri dari kekejaman teroris YPG/PKK, menghadiri kongres yang membahas pembangunan kembali wilayah tersebut dan kepulangan penduduk ke rumah mereka.
Kongres tersebut juga mengambil beberapa keputusan seperti mewujudkan perdamaian dan keamanan di Afrin dan desa-desa terdekat; menghormati semua agama dan sekte serta menyerahkan semua administrasi kota dan distrik kepada perwakilan masyarakat.
Sindi mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Turki telah menunjukkan ketelitian yang besar sehingga warga sipil tidak dirugikan selama Operasi Ranting Zaitun.
Dia mengungkapkan harapannya agar warga Afrin dapat kembali ke rumah mereka dan tinggal di sana dengan damai.
"Kami telah mengakhiri kongres dan akan mulai bekerja."
“Kami akan menuju ke Afrin dan membentuk majelis. Dalam majelis ini akan ada perwakilan masyarakat Kurdi, Alevi, Arab dan Ezidi."
“Kami ingin membentuk kepolisian Afrin....Tentara Pembebasan Suriah (FSA) akan berada di Afrin selama sebulan lagi,” kata dia.
Dia mengatakan bahwa Afrin akan kembali berkembang dengan dukungan Turki.
--- Membangun ‘Afrin baru’
"Yang terpenting adalah membersihkan YPG/PKK dari Afrin.
"Operasi ini berjalan lancar. Semoga Allah memberkati Turki," kata dia menambahkan bahwa presiden Turki menepati janjinya saat mengatakan "Kami akan menyerahkan Afrin kepada penduduk Afrin."
Dia mengatakan bahwa orang-orang Afrin tidak menginginkan kehadiran kelompok bersenjata mana pun di wilayah tersebut.
"Kami tidak menginginkan organisasi bersenjata di Suriah, termasuk Assad. Semua orang di Suriah menginginkan ini."
Dia mengatakan bahwa rezim Suriah dan Rusia telah menyebabkan kerugian besar terhadap warga sipil dalam perang saudara.
"Kami akan membangun Afrin baru. Kami ingin tinggal di sana dengan bebas.
"Rusia dan rezim telah membunuh 170 orang dalam satu hari namun kehidupan warga sipil diperhatikan selama Operasi Ranting Zaitun dan semua orang tahu ini," tambah dia.
Turki pada 20 Januari lalu meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Pada Minggu, pasukan yang didukung Turki membebaskan kota Afrin, yang telah menjadi tempat persembunyian besar bagi PYD/PKK sejak 2012.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.