Nicky Aulia Widadio
02 Januari 2019•Update: 03 Januari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah mengidentifikasi kekuatan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang memutilasi penambang dan menembaki polisi di Parigi Mouting, Sulawesi Tengah.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan Kelompok Ali Kalora yang kini diburu hanya berjumlah 10 orang, meralat perkiraan sebelumnya sebanyak tujuh orang.
Selain itu, sambung Dedi, mereka hanya memiliki tiga senjata yang terdiri dari dua senjata laras panjang dan satu senjata laras pendek rakitan.
“Sisanya hanya menggunakan senjata tajam. Artinya dengan Satgas Tinombala cukup untuk melakukan pengejaran,” kata Dedi di Jakarta, Rabu.
Polisi telah memintai keterangan saksi kunci yang menyaksikan pembunuhan penambang emas di Parigi Moutong.
Saksi kunci, kata Dedi, mengonfirmasi bahwa pembunuhan dilakukan oleh Kelompok Ali Kalora melalui foto-foto yang ditunjukkan penyidik.
“Saksi kunci sudah membenarkan 100 persen, mengklarifikasi satu per satu foto. Satgas sudah menyimpulkan bahwa pelaku merupakan kelompok Ali Kalora cs,” jelas Dedi.
Polisi menduga Kelompok Ali Kalora ingin menunjukkan eksistensi mereka kepada masyarakat melalui pembunuhan terhadap penambang emas.
“Mungkin kelompok tersebut merasa masyarakat tidak mengetahui keberadaan kelompok itu sehingga dengan terpaksa melakukan pembunuhan,” kata Dedi.
Kelompok Ali Kalora memutilasi seorang penambang emas di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Parigi Mountong.
Warga menemukan potongan kepala, yang diidentifikasi bernama Anang, pada Minggu, 30 Desember lalu.
Sedangkan tubuh korban ditemukan tidak jauh dari lokasi kepala.
Polisi kemudian mengecek dan mengevakuasi jasad korban mutilasi tersebut pada esok harinya.
Usai proses evakuasi, dua anggota bernama Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak ketika sedang menyingkirkan kayu dan ranting yang menghalangi jalan.
Dedi mengatakan Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak dari arah belakang oleh kelompok teroris tersebut.
Anggota lainnya merespons dengan meluncurkan tembakan balasan ke arah lereng gunung untuk mengamankan dua rekan mereka yang terluka.
Baku tembak sempat terjadi sekitar 30 menit hingga akhirnya kedua korban tembakan bisa dievakuasi, tutur Dedi.
Ali Kalora merupakan pentolan kelompok MIT usai kelompok ini kehilangan dua sosok pimpinan mereka.
Pimpinan MIT, Santoso alias Abu Wardah tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala di di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah pada Juli 2016 lalu.
Satgas Tinombala kemudian menangkap Basri, yang merupakan tangan kanan Santoso, dua bulan kemudian.
Usai penangkapan Basri, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah mengatakan bahwa kendali kelompok MIT ini berada pada Ali Kalora.