Nicky Aulia Widadio
03 Januari 2019•Update: 03 Januari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora telah melemah dan tidak lagi memiliki jaringan di luar persembunyian mereka di Poso, Sulawesi Tengah.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jendral Dedi Prasetyo menuturkan kelompok ini bahkan tidak diperhitungkan oleh jaringan teror lain seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
“Kelompok Ali Kalora ini sudah lemah, kekuatannya tidak didukung oleh kelompok lain seperti JAD,” kata Dedi ketika dihubungi, Kamis.
Polisi mengidentifikasi kelompok ini kini berjumlah 10 orang dan hanya memiliki tiga pucuk senjata api dan sejumlah senjata tajam.
Dedi menuturkan kelompok Ali Kalora melemah sejak sejumlah petinggi seperti Santoso alias Abu Wardah, Basri, dan Sabar Subagio alias Daeng Koro telah tewas dan ditangkap pada rentang 2015 hingga 2016 lalu.
Komando di kelompok ini kemudian berpindah ke Ali Kalora.
Menurut Dedi, Ali Kalora tidak memiliki kemampuan agitasi dan strategi perang sebaik Santoso, Basri, dan Daeng Koro.
Selain itu, persembunyian mereka yang berada di hutan belantara di Poso menyulitkan kelompok ini berkonsolidasi dengan pihak lain, tutur Dedi.
“Tokoh-tokoh berpengaruh yang bisa mengagitasi sudah tidak ada. Mereka juga kami antisipasi agar tidak memiliki akses ke masyarakat,” jelas Dedi.
Dengan kekuatan itu, Dedi menyatakan kelompok Ali Kalora kemungkinan beraksi dalam pola 'hit and run'.
“Mereka bergerak dalam kelompok kecil berjumlah tiga sampai lima orang dengan pola hit and run,” kata dia.
Satgas Tinombala masih memburu Ali Kalora cs usai kelompok ini memutilasi seorang penambang emas di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Warga menemukan potongan kepala, yang diidentifikasi bernama Anang, pada Minggu, 30 Desember lalu.
Sedangkan tubuh korban ditemukan tidak jauh dari lokasi kepala.
Polisi kemudian mengecek dan mengevakuasi jasad korban mutilasi tersebut pada esok harinya.
Usai proses evakuasi, dua anggota bernama Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak ketika sedang menyingkirkan kayu dan ranting yang menghalangi jalan.
Dedi mengatakan Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak dari arah belakang oleh kelompok teroris tersebut.
Anggota lainnya merespons dengan meluncurkan tembakan balasan ke arah lereng gunung untuk mengamankan dua rekan mereka yang terluka.
Baku tembak sempat terjadi sekitar 30 menit hingga akhirnya kedua korban tembakan bisa dievakuasi, tutur Dedi.
Polisi memastikan Kelompok Ali Kalora bertanggungjawab atas peristiwa ini.
Ali Kalora menjadi petinggi di MIT setelah sejumlah pimpinan kelompok ini satu per satu tewas dan ditangkap.
Pemimpin sekaligus pendiri MIT, Santoso alias Abu Wardah tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah pada Juli 2016 lalu.
Satgas Tinombala kemudian menangkap Basri, yang merupakan tangan kanan Santoso pada September 2016.
Sedangkan salah satu pentolan kelompok ini, Sabar Subagio alias Daeng Koro telah lebih dulu tewas dalam baku tembak pada April 2015 lalu.