Pizaro Gozali İdrus
21 Januari 2019•Update: 22 Januari 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Prayut Chan-o-cha masih menjadi pilihan paling populer untuk posisi perdana menteri dalam pemilu mendatang diikuti kandidat oposisi Khunying Sudarat Keyuraphan dari Partai Pheu Thai, menurut survei mutakhir di Thailand, lansir Bangkok Post pada Senin.
Survei dilakukan oleh lembaga National Institute of Development Administration atau Nida Poll pada 2-15 Januari dengan 2.500 koresponden berusia 18 tahun ke atas dari berbagai tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Menurut survei, Prayut unggul dengan 26,20 persen; Khunying Sudarat, ketua komite strategi pemilu Pheu Thai 22,40 persen; dan Abhisit Vejjajiva, pemimpin Partai Demokrat 11,56 persen.
Namun demikian partai oposisi Pheu Thai menjadi partai paling populer dengan 32 persen suara, unggul hampir 6 persen atas suara Prayut.
Sedangkan Partai Phalang Pracharat, partai pendukung Prayut, hanya mendapat 24,16 persen.
Sebanyak 59,72 persen responden juga menyatakan ingin melihat partai baru memimpin Thailand. Sedangkan 39,04 persen mengatakan mereka lebih suka partai lama, dan 1,24 persen memilih tidak berkomentar.
Pemilu di Thailand yang semula digelar pada 24 Februari ditunda hingga Maret dengan alasan upacara penobatan Raja Maha Vajiralongkorn.
Komisi Pemilu Thailand memberikan pilihan tanggal 10 Maret atau 24 Maret 2019 untuk menggelar pemilu.
Raja Thailand secara konstitusional berkewajiban untuk memimpin sidang pembukaan parlemen pasca pemilihan dalam waktu 15 hari setelah hasil resmi pemilihan diumumkan kepada publik.
Pemerintah militer Thailand di bawah kepemimpinan Prayut Chan-O-Cha telah menyatakan berulang kali menunda pemilu, yang sebelumnya direncanakan pada 2015.
Bulan lalu, junta mencabut larangan kegiatan politik yang diberlakukan sejak kudeta, yang memungkinkan partai politik untuk memulai kampanye.