Erric Permana
30 Agustus 2017•Update: 31 Agustus 2017
Erric Permana
JAKARTA
Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi mengatakan Rabu bahwa Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menghubunginya untuk membicarakan kekerasan yang terjadi pada etnis Muslim Rohingya di Rakhine Myanmar yang mengakibatkan 100 orang tewas.
“Kita berbicara mengenai situasinya, dan bagaimana kita menanggapinya,” kata Menteri Retno Marsudi di istana kepresidenan kepada wartawan.
Menurut Menteri Retno, Indonesia dan Turki sepakat bahwa untuk menangani permasalahan di Rakhine harus melalui pendekatan Constructive Engagement.
“Yang penting adalah bahwa korban sipil, masalah kemanusiaan ini diutamakan,” katanya.
Selain Menlu Turki, Menteri Retno juga dihubungi Ketua Komisi PBB untuk Rakhine, Kofi Annan. Dalam pembicaraannya tersebut, Kofi Anan meminta Indonesia untuk terus melakukan upaya yang sudah dilakukan selama ini.
“Karena kalau dilihat dari temporary report yang dikeluarkan pada Agustus yang lalu apa yang dilakukan Indonesia sangat cocok dengan rekomendasi yang dikeluarkan komisinya Kofi Anan,” kata Menteri Retno.
Dalam waktu dekat ini Menlu berencana mengunjungi Myanmar. Rencana tersebut sudah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo.
“Insya Allah kita akan berkunjung ke Myanmar kita sedang atur semuanya mudah-mudahan dapat kita segera lakukan,” ujar Retno lagi.
Dia mengaku belum tahu apa akan bertemu dengan Penasehat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi atau tidak.
“Kita sedang bahas [soal rencana ini] terus,” ujar Retno melalui pesan pendek kepada Anadolu Agency.
Meski demikian, Indonesia kata Retno, akan terus memberikan bantuan yang dibutuhkan Muslim Rohingya di Rakhine, seperti bahan makanan dan juga obat-obatan. Bahkan, Pemerintah Indonesia akan mendirikan rumah sakit di sana.
“Bahwa kita sudah punya 6 sekolah di Rakhine State, kita juga membantu dari segi bahan makanan, obat-obatan, dan kita sekarang akan mulai membangun rumah sakit yang cukup besar di Rakhine State tadi saya sudah sampaikan kepada presiden,” jelasnya.
Serangan mematikan oleh kelompok pemberontak di pos-pos perbatasan di negara bagian Rakhine terjadi pada Jumat lalu, dan menewaskan sembilan polisi.
Laporan media menyebutkan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah melakukan kekerasan hingga menyebabkan ribuan warga Rohingya mengungsi, karena rumahnya diserang mortir dan senapan mesin. Dikabarkan hampir seratus muslim Rohingya menjadi korban.
Ketegangan antara umat Buddha dan Muslim di wilayah tersebut meletus sejak kekerasan komunal pada 2012.