Nicky Aulia Widadio
21 Februari 2019•Update: 21 Februari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Indonesia tengah mengembangkan sistem peringatan dini multi-bahaya (multi-hazard early warning system).
Sistem ini akan mengintegrasikan seluruh alat deteksi bencana baik tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain.
Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja mengatakan pihaknya akan menjadi koordinator dari pengembangan sistem ini.
“Harapannya tidak ada lagi overlap dan semuanya terintegrasi,” kata Wisnu di Jakarta, Kamis.
Wisnu menjelaskan sistem ini juga akan terintegrasi dengan data-data terkait kependudukan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
Untuk mewujudkan sistem tersebut, dia mengatakan perlu kolaborasi antar-lembaga pemerintah dan pihak swasta, terutama perusahaan telekomunikasi di seluruh Indonesia.
Selain itu, sistem ini nantinya juga bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia secara real time untuk mengetahui resiko bencana dan penanggulangannya melalui perangkat seluler masing-masing.
“Jadi jangan hanya menunggu dari informasi pemerintah untuk evakuasi itu, tapi masyarakat juga punya akses informasi itu sendiri,” jelas dia.
BNPB menargetkan pengembangan sistem peringatan dini multi-ancaman ini rampung pada 2024 dan bisa mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Saat ini BNPB baru memiliki portal mitigasi bencana bernama InaRISK dalam bentuk situs dan aplikasi telepon pintar.
Wisnu menuturkan platform InaRISK merupakan salah satu yang akan dikembangkan pada multi-hazard early warning system ini.
Pemerintah Indonesia menganggarkan Rp7 triliun untuk pengadaan dan modernisasi sistem deteksi bencana dalam tiga tahun ke depan.
Namun untuk mengembangkan multi-hazard early warning system, Wisnu mengatakan perlu alokasi dana yang kontinyu untuk pembaruan teknologi yang terus berkembang.