Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 Juni 2019•Update: 28 Juni 2019
Dilara Hamit
ANKARA
Menteri luar negeri Rwanda pada Selasa menghadiri Seminar Renaissance Rwanda untuk memperingati 25 tahun gerakan kemerdekaan Rwanda, yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran Strategis (SDE) di Ankara.
Richard Sezibara menyinggung soal sejarah Rwanda yang merujuk pada tahap-tahap pra-kolonisasi, jajahan dan pasca-jajahan negara itu.
"Kekuatan kolonial menghancurkan struktur sejarah kita yang menyatukan kita dan membuang sejarah kita. Perusahaan kolonial itu bertujuan menghancurkan fondasi negara kita," kata Sezibera.
Sezibera mencatat bahwa kekuatan kolonial memisahkan persatuan dan integritas Rwanda pada 1931 dengan mendiskriminasi orang berdasarkan etnis dan gender mereka.
"Pepatah populer pada saat itu begitu kuat sehingga kami percaya bahwa Rwanda tidak akan pernah bisa diserang, Rwanda hanya bisa menyerang, ini karena pembangunan bangsa selama berabad-abad," ujar dia.
Dasar-dasar genosida pada 1994 terbentuk pada 1930-an ketika kekuatan kolonial membuat kartu identitas permanen yang memisahkan penduduk berdasarkan etnis.
Sezibera mencatat bahwa sekitar 2.500.000 warga Rwanda terlantar dan sekitar 3.000.000 warga menjadi pengungsi selama genosida.
"Sebuah negara seperti negara saya dengan satu komunitas, satu budaya dan satu bahasa mengalami isolasi yang mengarah ke genosida, tidak ada negara di dunia yang aman," tambah dia.
Lebih dari 800.000 orang Rwanda dibantai pada 1994 selama 100 hari, antara April hingga Juli, oleh anggota mayoritas etnis Hutu di negara Afrika Timur.
Mereka yang tewas sebagian besar berasal dari minoritas Tutsi.