Chandni
25 Januari 2018•Update: 26 Januari 2018
Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Setidaknya dua orang tewas dan 10 lainnya terluka pada Rabu ketika seorang pengebom bunuh diri menyerang kantor LSM Inggris Save the Children di kota Jalalabad, Afganistan, menurut laporan awal.
Kejadian di provinsi Nangarhar itu diikuti baku tembak dan bentrokan antara penyerang dan pihak keamanan. Saksi mata mengatakan ada sejumlah korban dan beberapa kendaraan lembaga itu juga terbakar.
Juru bicara gubernur Nangarhar Attaullah Khogyani mengatakan kepada Anadolu Agency serangan itu terjadi pukul 09.00 ketika sebuah mobil yang diisi bom menabrak pagar utama kantor LSM itu di Jalalabad.
Khogyani mengatakan seorang warga sipil dan seorang polisi tewas dalam bentrokan dan dua dari tiga penyerang juga tewas.
"Pihak keamanan sudah di lokasi dan menghadapi teroris," kata Khogyani.
Menurut stasius televisi Shamsaad TV, lebih dari 10 orang dipastikan terluka.
"Kami prihatin mendengar kabar kantor SCI kami di Jalalabad diserang pagi ini. Prioritas utama kami saat ini adalah keamanan dan keselamatan staf kami. Kami masih menunggu informasi lebih lanjut dan belum bisa berkomentar," bunyi pernyataan dari Save the Children.
Militan pro-Daesh di Afganistan mengklaim mereka yang melakukan serangan itu.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor propaganda Daesh, Amaq, kelompok itu mengatakan penyerang menargetkan LSM-LSM Inggris, Swedia dan Afgan.
Komite Swedia untuk Afganistan terletak dekat lokasi Save the Children di daerah perumahan di Jalalabad.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres "terkejut dan sangat sedih mengenai serangan terhadap LSM internasional Save the Children", kata juru bicaranya Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan.
"Pekerja LSM, kantor, dan aset-aset mereka seharusnya tidak pernah menjadi target. Sekretaris Jenderal sekali lagi mengingatkan semua pihak dalam konflik Afganistan harus tunduk pada hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan lembaga kemanusiaan," kata Dujarric.
Duta Besar Swedia untuk Afganistan Tobias Thyberg dalam pernyataannya mengatakan serangan terhadap mereka yang memberikan hidup mereka untuk memperbaiki Afganistan adalah tindakan kriminal yang "tidak bisa diterima" di mata hukum internasional.
Sebelumnya, serangan lain juga memaksa Komite Palang Merah Internasional membatasi aktivitas mereka di Afganistan dan terpaksa menelantarkan ribuan orang yang membutuhkan mereka.