Maria Elisa Hospita
02 Agustus 2018•Update: 03 Agustus 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
Mulai hari Rabu, Duta Besar Inggris untuk PBB Karen Pierce memimpin Dewan Keamanan (DK) selama bulan Agustus.
Dalam sebuah konferensi pers di markas PBB, Pierce mendiskusikan jabatan kepresidenan Inggris di DK dan agenda DK untuk bulan ini.
Dia juga mengapresiasi Swedia, yang memimpin DK selama bulan Juli.
Pierce mengatakan, dia berencana untuk melanjutkan upaya-upaya presiden terdahulu untuk menghimpun anggota-anggota DK agar dapat bekerja sama dengan produktif.
"Kami ingin Dewan fokus kepada bidang-bidang yang menjadi target kami, yang berorientasi pada aksi, sehingga dapat membuat perbedaan," jelas dia.
Salah satu agenda yang akan dibahas bulan ini adalah penggunaan senjata kimia di Suriah, perdamaian dan keamanan di Yaman, krisis Rohingya di Myanmar dan Bangladesh, serta konflik Israel-Palestina.
Mengenai Muslim Rohingya, Pierce mengatakan bahwa PBB berusaha keras untuk memulangkan pengungsi Rohingya ke kampung halaman mereka.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi melarikan diri ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus tahun lalu.
"Kami harus melakukan segala upaya agar bisa memulai proses politik," ujar Pierce, merujuk kepada penyelesaian krisis politik di Siprus.
Pulau Siprus telah terpecah sejak tahun 1974, ketika kudeta Siprus Yunani memicu invasi Turki. Warga Siprus Turki tinggal di wilayah utara dan warga Siprus Yunani di wilayah selatan.