Dandy Koswaraputra
02 Desember 2018•Update: 03 Desember 2018
Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Lebih dari 300 warga sipil Afghanistan, pasukan keamanan, dan ribuan pemberontak bersenjata tewas selama November akibat meningkatnya kekerasan di negara yang dilanda perang itu.
Angka-angka yang dikumpulkan oleh Anadolu Agency menunjukkan telah terjadi peningkatan angka pembunuhan di tengah desakan baru oleh AS untuk melakukan pembicaraan damai dengan Taliban dalam perang yang hampir dua dekade ini.
Hanya dalam tiga insiden bulan lalu, lebih dari 100 jiwa hilang di ibukota Kabul, provinsi Helmand dan Ghazni.
Yang paling mematikan di antara mereka adalah pemboman bunuh diri pada upacara keagamaan di jantung kota Kabul yang merenggut 50 nyawa pada 20 November.
Najib Danish, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa serangan bunuh diri itu menargetkan sebuah tempat berkumpul suatu komunitas saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Hal ini diikuti oleh serangan Taliban di desa-desa minoritas Shia-Hazara di Jaghori dan distrik Malistan di Ghazni pada minggu terakhir bulan November yang menyebabkan sedikitnya 35 warga sipil terbunuh.
Ribuan lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka dan berlindung di bagian-bagian negara yang relatif lebih aman.
Insiden ketiga berupa serangan udara AS di provinsi Helmand mengakibatkan korban 23 warga sipil pada November.
Menurut misi PBB di Afghanistan (UNAMA), sekitar 649 korban sipil telah tercatat tahun ini dari Januari hingga September.
Pasukan Afghanistan terus menghadapi beban perang setelah mengambil alih tanggung jawab keamanan nasional dari pasukan NATO pada tahun 2015.
Presiden Ashraf Ghani menegaskan lebih dari 28.500 pasukan Afghanistan telah tewas sejak mengambil alih tanggung jawab keamanan dari pasukan NATO yang jauh lebih terlatih dan dilengkapi.
Dia mengungkapkan dalam sebuah pidato di Sekolah Studi Internasional Lanjutan Johns Hopkins di Washington melalui video-link dari Kabul bulan lalu bahwa korban tewas adalah orang-orang yang berkorban untuk Afghanistan.
Di provinsi Farah yang berbatasan dengan Iran, lebih dari 70 tentara tewas dalam berbagai serangan selama sebulan.
Para pejabat Afghanistan dan AS telah lama menyalahkan Iran yang dianggap telah memicu pemberontakan di Farah, klaim yang ditolak oleh Teheran.
Selain itu, serangan mematikan terhadap etnis minoritas Shia-Hazara di Ghazni pada akhir November yang menyebabkan 50 tentara tewas.
Sebanyak 26 tentara lainnya tewas dalam serangan bunuh diri di sebuah masjid militer Afghanistan pada 23 November.
Rata-rata 60 pemberontak tewas setiap hari pada bulan November selama operasi darat, kata Kementerian Pertahanan di situs webnya.
Serangan terhadap pasukan asing berlanjut selama bulan itu.
Tiga prajurit AS tewas dan tiga lainnya terluka pada 27 November ketika sebuah alat peledak rakitan diledakkan di dekat kota Ghazni.
Seorang kontraktor Amerika juga terluka.
Tahun ini 12 tentara AS dan empat anggota koalisi lainnya tewas dalam serangan, kata Mayor Bariki Mallya, juru bicara Misi Dukungan T Resolute yang dipimpin NATO.