Chandni
15 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Fatih Erel
JENEWA
Sebanyak 39 kasus penyakit virus Ebola telah dilaporkan di Republik Demokratik Kongo (DRC), termasuk 19 kasus kematian dari 4 April hingga 13 Mei, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin.
Tiga petugas kesehatan termasuk di antara pasien tewas, lanjut WHO, yang juga mengatakan angka kematian kasus penyakit virus Ebola (EVD) sejauh ini 49 persen.
Kasus-kasus itu dilaporkan terjadi di Bikoro, Iboko dan Wangata, dan 393 orang lainnya yang mungkin terpapar virus sudah diidentifikasi sejauh ini dan sedang ditindaklanjuti, terang WHO.
WHO mengerahkan 50 ahli kesehatan masyarakat untuk membantu Kementerian Kesehatan DRC dengan kegiatan tanggap darurat.
EVD, sebelumnya dikenal sebagai Ebola hemorrhagic fever, adalah penyakit yang parah dan seringkali fatal pada manusia. Virus ini ditularkan kepada manusia dari hewan liar dan menyebar dari satu orang ke orang lainnya.
Tingkat kematian kasus EVD rata-rata sekitar 50 persen. Angka kematian virus ini bervariasi dari 25 hingga 90 persen dalam beberapa wabah sebelumnya.
Wabah EVD pertama terjadi di desa-desa terpencil di Afrika Tengah, dekat hutan hujan tropis. Wabah 2014–2016 di Afrika Barat mempengaruhi kawasan perkotaan besar serta pedesaan.
Ebola masuk ke populasi manusia melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi, seperti simpanse, gorila, kelelawar, monyet, antelop hutan, dan landak yang ditemukan sakit atau mati di hutan hujan.
Ini adalah wabah Ebola kesembilan DRC sejak virus itu ditemukan di sana pada 1976.
Ebola menyebabkan kepanikan global pada 2014 ketika wabah terburuk virus itu terjadi di Afrika Barat, menewaskan lebih dari 11.300 orang dan menginfeksi sekitar 28.600 lainnya setelah melanda Liberia, Guinea dan Sierra Leone.