Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia tidak terlalu terkena dampak dari perang dagang karena tidak berada dalam rantai pasok global.
Dalam diskusi bertemakan "Tantangan Investasi di Tengah Kecamuk Perang Dagang" yang diadakan Indef, Menteri Sri menjelaskan pengaruh perang dagang berbeda-beda di setiap negara.
“Semakin terkait suatu negara dalam rantai pasok dan perdagangan global, maka dampak perang dagang akan semakin besar, bisa upsize ataupun downsize,” ungkap Menteri Sri di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan minimnya dampak perang dagang bagi Indonesia ini selain menjadi hal yang positif, namun juga buruk karena berarti keterkaitan Indonesia terhadap rantai pasok dan perdagangan global sangat rendah.
“Dalam gonjang ganjing perang dagang kita less expose, tapi pada saat ada opportunity kita juga jadi kurang bisa untuk memanfaatkan,” imbuh Menteri Sri.
Dia menjelaskan beberapa negara yang terdampak negatif dalam perang dagang ini seperti Singapura saat ini sudah masuk ke dalam tren pertumbuhan negatif karena ekonominya tergantung pada ekspor dan impor.
Begitupun China yang mengalami pelemahan ekonomi terbesar dalam 27 tahun terakhir serta Thailand yang terhantam dari sisi perdagangannya.
Sementara Vietnam menjadi negara yang paling mendapatkan keuntungan dari perang dagang ini karena bisa masuk ke dalam rantai pasok dunia dan tingginya investasi yang masuk.
“Negara yang memiliki performa terbaik itu yang paling tergantung dengan dunia global,” jelas Menteri Sri.
Dia mengatakan China mampu tumbuh konsisten mendekati double digit karena ketergantungannya pada dunia terutama Eropa dan AS.
Oleh karena itu, Menteri Sri menguraikan berdasarkan analisa perang dagang bisa menimbulkan beberapa potensi yang bisa Indonesia manfaatkan senadainya bisa masuk ke dalam rantai pasok global.
“Ini memiliki konsekuensi sehingga kita perlu mempersiapkan Indonesia mengambil kesempatan itu,” lanjut dia.
Menteri Sri menegaskan agar dapat masuk ke dalam rantai pasok global, Indonesia perlu menggenjot masuknya investasi dengan terus memperbaiki faktor-faktor fundamental yang meningkatkan optimisme investor.
“Investasi itu bukan sesuatu yang tiba-tiba seperti ceplok telur yang jadi dalam 1 menit,” tambah Menteri Sri.
Menteri Sri menambahkan beberapa faktor fundamental Indonesia saat ini sudah positif seperti stabilnya pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen, serta turunnya pengangguran menjadi 5,01 persen dan kemiskinan menjadi 9,41 persen yang menjadi level terendah dalam sejarah bangsa.
“Gini ratio juga perlahan sudah turun menjadi 0,382 dan beberapa daerah bahkan sudah rendah,” tambah dia.
Menteri Sri menekankan bahwa perekonomian Indonesia saat ini sudah berada dalam tren yang benar, namun membutuhkan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar dan cepat.
--Investasi di Indonesia belum efisien
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai investasi di Indonesia belum efisien dengan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) 2016-2018 masih berada di angka lebih dari 6, masih jauh di atas nilai ICOR tahun 2008 di angka 3,7.
“Akibatnya, realisasi investasi belum mampu mendorong pertumbuhan sektor industri untuk menjadi prime mover ekonomi nasional,” jelas Tauhid.
Tauhid juga mengatakan investasi di Indonesia semakin menjauh dari sektor primer dan sekunder karena bergeser ke sektor tersier.
Dia mengungkapkan pada 2013 porsi investasi asing yang masuk ke sektor sekunder mencapai 55,4 persen sementara pada 2018 bergeser ke tersier dengan porsi investasi di sektor sekunder tersisa 35,3 persen.
“Hal ini berimplikasi terhadap kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja dan optimalisasi nilai tambah,” tambah Tauhid.
Dia mengatakan perang dangan hanya berdampak 0,01 persen pada peningkatan PDB Indonesia.
Negara yang paling terdampak negatif dari perang dagang ini adalah AS dengan koreksi PDB 0,1 persen dan China 0,6 persen.
“Vietnam menjadi negara yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari perang dagang dengan pertambahan PDB 0,52 persen,” ungkap Tauhid.
Dia menjelaskan Vietnam sejak 10 tahun terakhir mampu mengambil porsi besar dalam nilai tambah investasi asing yang besar.
Vietnam mampu mendapatkan limpahan investasi asing hingga 8,05 persen sementara Indonesia hanya menikmati tambahan investasi asing 1,02 persen.