Hayati Nupus
26 September 2018•Update: 27 September 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Indonesia sudah maksimal mengamankan perairan internasional di perbatasannya, Filipina dan Malaysia yang kerap menjadi lokasi penyanderaan WNI oleh kelompok bersenjata.
“Operasi pengamanan sudah maksimal, orang-orang kita juga sudah tahu [kalau lokasi tersebut tidak aman],” ujar Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Rabu, di Jakarta.
Ryamizard mengatakan bahwa pemerintah telah berkali-kali mengimbau agar sebisa mungkin WNI tidak melewati wilayah rawan kelompok bersenjata tersebut.
“Sudah berulang kali dikasih tahu, pergi juga,” ujar dia.
Saat ini Indonesia terus meningkatkan pengamanan di wilayah perbatasan ketiga negara tersebut.
Ryamizard juga mengatakan bahwa pihaknya memperoleh informasi keterlibatan orang Indonesia dalam aktivitas kriminal di perairan internasional tersebut.
“Ada orang Indonesia lapor, di sana ada begini-begini [aksi kriminal], duitnya dibagi-bagi tuh, orang kita juga dapat di Kalimantan,” kata dia.
Dua orang WNI disandera oleh kelompok bersenjata di wilayah Sabah, Malaysia, 11 September 2018 lalu. Keduanya bernama Samsul Saguni, 40 tahun dan Usman Yunus, 35 tahun, asal Sulawesi Barat.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal mengatakan saat diculik kedua nelayan WNI itu tengah bekerja di kapal penangkap ikan berbendera Malaysia Dwi Jaya I.
Keluarga korban menerima telepon dari salah satu penculik dan meminta tebusan RM 4 juta atau Rp14 miliar. Saat ini pemerintah tengah bernegosiasi agar sandera bisa dilepas dan kembali ke Indonesia.
“Mudah-mudahan segera dilepas,” harap Ryamizard.