Rhany Chairunissa Rufinaldo
01 Januari 2019•Update: 02 Januari 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Donald Trump pada Senin memberi isyarat bahwa Amerika Serikat memperlambat penarikan 2.000 tentara yang ditempatkan di Suriah.
Pengumuman itu tampak bertentangan dengan deklarasi awal Trump, di mana dia berjanji akan segera menarik pasukan AS dari Suriah, tetapi jadwal untuk penarikan tersebut masih belum jelas.
"Sebagian besar dari ISIS sudah hilang, kami secara perlahan mengirim pasukan kami kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga mereka, sementara pada saat yang sama tetap memerangi sisa-sisa ISIS," kata Trump di akun Twitter-nya.
Senator Lindsey Graham, sekutu dekat Trump yang mengkritik keras penarikan pasukan dari Suriah, mengatakan bahwa AS memperlambat penarikan dengan cara yang cerdas.
"Saya pikir kita berada dalam situasi jeda di mana kita mengevaluasi kembali cara terbaik untuk mencapai tujuan Presiden yaitu membuat orang membayar lebih banyak dan melakukan lebih banyak," tambahnya.
Graham adalah salah satu dari sejumlah politisi Partai Republik yang mengkritik penarikan tersebut dengan alasan bahwa hal itu akan memperkuat rezim Suriah dan sekutu utamanya dan mengganggu perang melawan Daesh.
Trump dengan gigih membela keputusannya dalam serangkaian cuitan di akun Twitternya di mana dia merujuk kepada para kritikusnya.
"Saya berkampanye untuk keluar dari Suriah dan tempat-tempat lain. Sekarang ketika saya mulai keluar, media berita palsu atau beberapa jenderal yang gagal, yang tidak dapat melakukan pekerjaannya sebelum saya tiba, ingin mengeluh tentang saya & taktik saya. Saya hanya melakukan apa yang saya katakan akan saya ingin lakukan!" tegas sang presiden.
Trump tidak merinci tentang jendral mana yang dia maksud, tetapi menteri pertahanannya, Jenderal Korps Marinir James Mattis, mengundurkan diri setelah pengumuman penarikan tersebut.