İqbal Musyaffa
12 Desember 2017•Update: 13 Desember 2017
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah mengatakan ekonomi Indonesia Indonesia di masa mendatang tidak dapat lagi bergantung pada minyak dan gas (migas).
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Perekonomian Montty Girianna mengatakan, dengan mengurangi ketergantungan pada Migas akan membuat ekonomi nasional lebih stabil dalam menghadapi potensi resiko global fluktuasi harga minyak dunia.
Sejak harga minyak jatuh pada 2014, kata Montty, penerimaan negara dari migas sepanjang 2014-2016 menurun sampai Rp235 triliun. Penurunan tersebut bersumber dari pajak Migas, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) Migas, maupun permintaan pasar domestik.
“Ketika harga minyak masih di kisaran USD 100/barel, sektor Migas mampu menyumbang hingga Rp300 triliun per tahun. Namun kini hanya berkisar di angka Rp 100 triliun,” ungkap Montty dalam acara Pertamina Energy Forum 2017, Selasa.
Pemerintah berharap, ujar Montty, ketersediaan energi baru terbarukan (EBT) dapat membantu penghematan devisa negara maupun mengurangi porsi subsidi, energi sehingga mampu menyehatkan APBN.
“Pada 2016 negara berhasil menghemat devisa sekitar USD 1,1 miliar atau Rp14,8 triliun dari penerapan program pencampuran 20 persen bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel ke bahan bakar minyak (BBM) jenis solar atau B20,” urai dia.
Penghematan devisa juga terjadi akibat penurunan volume subsidi solar karena penggunaan komponen bio.
“Pada akhirnya juga mampu mengurangi subsidi BBM,” tambah Montty.
Melalui peralihan konsumsi energi, pada masa mendatang Montty mengatakan subsidi BBM dapat berkurang drastis.
Dengan begitu, alokasi anggaran negara akan lebih fleksibel untuk diarahkan pada sektor-sektor produktif.
“Kami yakin, pengembangan EBT dapat menekan biaya penyediaan energi dari penurunan biaya transportasi dan investasi infrastruktur,” tegas Montty.
Potensi EBT di Indonesia memiliki sifat kedaerahan. Jawa Barat memiliki potensi panas bumi paling tinggi, Kalimantan Barat dengan potensi tenaga surya, serta Papua dengan potensi tenaga air yang besar. Sehingga dengan konsep pengembangan energi bersifat kedaerahan, kebutuhan energi di masing-masing daerah akan dapat dipenuhi secara mandiri.
Pemanfaatan EBT di Indonesia diakui Montty masih sangat rendah bila dibandingkan dengan potensi yang ada. Saat ini Indonesia baru memanfaatkan 8.216 MW dari potensi EBT sebesar 443.208 MW.
“Sudah saatnya kita lebih serius dalam menggarap sektor ini,” tekan Montty.