Muhammad Latief
28 September 2017•Update: 29 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasiun Jonan, Kamis, mengaku pesimistis Indonesia bisa memenuhi target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional hingga 23 persen pada 2025 mendatang.
Dengan kecepatan pemasangan EBT saat ini, Menteri Jonan memperkirakan, pada 2019 atau akhir masa kepemimpinan Presiden Jokowi, target 23 persen bauran energi baru tercapai sekitar 17 persen.
EBT pertama di Indonesia adalah pembangkit listrik tenaga air, yang berada di Waduk Cirata di Cianjur, Jawa Barat, hingga Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Kemudian disusul dengan pembangkit listrik tenaga energi geothermal, disusul dengan pembangkit listrik dengan teknologi baru seperti tenaga surya, biomassa, dan tenaga angin.
Saat ini, sebut Menteri Jonan, muncul juga pembangkit tenaga sampah dan tenaga arus serta panas laut.
“Dari total kapasitas listrik yang terpasang di Indonesia, EBT sudah 12 persen,” sebut dia.
Jika dilihat pembangkit listrik yang baru ditandatangani dalam tiga tahun terakhir, total kapasitas EBT saat ini sekitar 1.500 mega watts (MW).
Rinciannya, EBT yang terpasang untuk panas bumi sebesar 1.698,5 MW; pembangkit bioenergy terpasang 1.812,7 MW; tenaga surya sebesar 259,8 MW; dan pembangkit listrik bahan bakar nabati sebanyak 1,88 juta kiloliter.
Pemanfaatan EBT ini masih sangat kecil dibandingkan potensi yang ada, yaitu sebesar 28.579 MW.
Menurut Jonan, tantangan terbesar penggunaan EBT adalah pada sektor transportasi. Upaya pemerintah untuk mencapai target ini salah satunya dengan mewajibkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menyediakan bahan bakar gas (BBG). Selain itu, pihaknya sudah mengusulkan agar Presiden Jokowi menerbitkan aturan yang bisa mendorong penggunaan mobil listrik, bisa dalam bentuk Perpres atau Peraturan Pemerintah (PP).
“Jika Perpres atau aturan lain tentang mobil listrik ini terbit, maka pencapaian [bauran energi] bisa lebih total,” ujarnya.