Hayati Nupus
29 Januari 2019•Update: 30 Januari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah mengungkapkan hingga 2018 telah memulihkan 3,1 juta hektar lahan gambut.
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliansyah mengatakan pemulihan itu dilakukan lewat pembasahan lahan, baik di area konsesi maupun non-konsesi.
“Dari capaian pelaksanaan pemulihan tersebut, maka sampai dengan tahun 2018 dapat dihitung penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 190,6 juta ton CO2 ekuivalen,” kata Karliansyah dalam dialog peringatan Tiga Tahun Badan Restorasi Gambut (BRG) di Jakarta, Selasa, seperti dalam keterangannya.
Karliansyah mengatakan pemulihan ekosistem gambut itu dilakukan di perkebunan seluas 884.580,09 hektar, hutan tanaman industri 2.226.780,80, lahan masyarakat 8.382 hektar dan area di luar konsesi 679.901 hektar.
Artinya, lanjut Karliansyah, Indonesia telah memulihkan lahan gambut hampir 4 juta hektar, sebanyak 700.000 hektar di antaranya dilakukan oleh BRG.
Pemulihan ini, ujar Karliansyah, dilakukan untuk mengembalikan fungsi hidrologis lahan gambut yang rusak akibat kebakaran dan pengeringan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.
Indonesia, ungkap Karliansyah, memiliki lahan gambut hingga 24.667.804 hektar.
KLHK, kata Karliansyah, membangun basis data pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) dan curah hujan di areal konsesi maupun lahan masyarakat bernama SiMATAG-04m untuk memantau tata kelola air di lahan gambut.
Basis data tersebut, imbuh Karliansyah, mengelola data dari 9.603 titik yang tersebar di seluruh Indonesia lewat gawai.
Dengan basis data itu, tambah Karliansyah, pemerintah dapat menghitung penurunan gas rumah kaca.
Kepala BRG Nazir Foead mengatakan pembasahan lahan gambut dapat mengurangi dekomposisi gambut.
Dengan begitu, lanjut Nazir, kebakaran dapat dicegah.
“Hasil yang dicapai dalam tiga tahun ini ikut berkontribusi dalam mengurangi kebakaran hutan dan lahan secara signifikan,” kata Nazir.